Minggu, 02 Juli 2023

That Time to Remember


 

This is how I remember you someday

That time when I had a piece of consolation

From you who found me in secret

Sudden lost didn't sweep the memories away

And who knows how life would turn

As honesty never hurt

Everything remained unchanged


There was no second guessing

Since what happened had revealed the meaning

No hard feeling to choose where to grow up

Along with the journey to the ending

Perhaps I was there only to cherish you, so

That time when you eventually look back on the old story

This is how you remember me someday


=================================***==================================


PS:

A modest words-string at late night when it comes to you

From a girl who loves the sky

And a cat :)

Jumat, 25 Maret 2022

What Does “Sorry” Mean to You?

 

No one’s life is born flawless. People will stumble eventually no matter how careful they walk the path. Either ends up hurting someone’s feeling or being hurt. It’s so normal to feel pain when being hurt, or have guilt when hurting someone, since people are treated by how they treat others, equally said and done for harmonic life.

 

Saying sorry for apologizing is a common way to express how people regret their previous misbehaves, and as a consequent, they try to cope with them verbally. The urge appears from their sense of justice. How their guilt directs their action to set it right back again. Unfortunately, we may never know how sincere it’s said.

 

Or do we really need to know?

 

Some people have their own high ego. Their pride. Their own compass of truth and justice. No wonder it would be so hard for them to admit the mistakes. But one worth thing to remember, sorry won’t come out from them unless they have dealt with their personal values. Values which resonate with people surround them, and tell them that there’s something wrong needs to be fixed, even with their apology.

 

In other case, some people don’t resonate these values. Deep down perhaps they don’t feel anything wrong, but they will say that apology word for the sake of their circles. Apology always tends to be an appropriate way to behave in social interactions, and they see no disadvantages to act that way. From some point of view people will call it an act of hypocrite. However, there’s fact that everyone has their own right to have different values which shouldn’t be imposed to others.

 

Thus, here’s the point.

 

Every regrethow small it ishas hurt the heart. Our heart deserves to be in peace, no matter what they say. We should know how to spot the warning sign they give us. When people say sorry, look how they behave after. Once could be figured out as a mistake, but repetition of old mistakes shows a person’s trait. It reveals that our pain has no meaning for them. Despite how personal the decision to forgive and forget could be, what we should take on consideration are these two things: how worse the pain it causes and when to break the pattern, letting go toxic people from our life.

 

In the end, under no circumstances it doesn’t justify us to do the same to others. We learn how to respect ourselves by not repeating the same faults. We learn how to be reliable when we’re responsible of our actions. Those are what people will seek from us, so let them know that we do it purely as a proof of how noble our life will be.

Minggu, 24 Mei 2020

Jangan Bohongi Dirimu Jika Tidak Baik-Baik Saja





Jangan bohongi dirimu jika tidak merasa baik-baik saja. Jangan abaikan semua rasa sakit yang menimpamu. Merupakan hal yang wajar saat kamu bisa merasakan sakit, baik badan maupun jiwamu. Dirimu yang kuat bukan berarti kebal atas rasa sakit. Walau dengan terus merasa lemah juga hanya akan membuatnya terasa semakin perih.

Rutinitasmu tidak selalu mendefinisikan dirimu dengan tepat. Orang-orang mungkin akan melihatmu sebagai apa yang kamu tampakkan, tetapi tidak semua orang harus tahu mengapa kamu bersikap seperti itu. Yang paling mengerti adalah dirimu sendiri. Kamu harus mengenal apa yang menjadi batasan dirimu karena tidak semua keadaan akan berjalan seperti yang kamu mau.

Ketika hidup dengan banyak orang, maka tiap diri punya tanggung jawab masing-masing, baik kamu maupun mereka. Mereka bebas berkomentar apapun dan dari situ kamu perlu belajar apakah perkataan mereka ditujukan untuk kebaikanmu atau kenyamanan mereka sendiri. Keduanya adalah hal yang berbeda. Kamu sendiri akan dihormati jika dirimu mampu bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan.

Lakukan hal terbaik yang mampu kamu lakukan. Tentu usahamu tidak akan selalu dinilai baik oleh semua orang, tetapi selama tidak ada yang kamu rugikan, teruskan saja. Perbarui niat dan berusahalah lebih keras untuk belajar dari kesalahan, karena tidak ada jaminan kamu punya kesempatan kedua untuk memperbaiki keadaan. Selama kamu yakin dan teguh pada hal yang benar, akan selalu ada jalan keluar dari kondisi yang sulit sekalipun.

Mungkin akan ada saatnya kamu lelah, jenuh, atau tertekan. Ketika hal itu datang, jangan paksa dirimu bertahan dalam keadaan yang sama. Jangan biarkan kericuhan orang lain merebut ketenangan hatimu untuk berpikir. Kamu berhak mengambil waktu untuk mengevaluasi apa yang sudah kamu lakukan dan menyesuaikan kembali dengan tujuan yang ingin kamu raih. Ingat, sesuatu yang berharga pasti menuntut kesabaran dan perjuangan, dan pastikan setiap hal yang kamu pilih adalah hal yang membuatmu berkembang lebih baik dari hari ini.


Bekasi, Ahad 2 Syawal 1441 / 24 Mei 2020 22.25 pm
-Raffmont, I-

Selasa, 26 November 2019

For Those Whose Agony: A Random Thought Before The Midnight


It's normal to feel insecure. We have fear of everything we can't control. Everything we have no idea about. Nevertheless, it isn't okay when we're drowned to the bottom of our anxieties which blind us to see a light of hope. When we have some will, there should be something we could do to make it work, or either to make it change. The result neither might be as expected nor on time as we want. But time still counts. For everyone, for everything happens.

If we're just stuck on misery of what passed, we won't be able to foresee the chance of better happiness of our own. Depression could trick you not to move forward, but never let it steals your life. Instead of mourning or contemplating on fatal bad lucks, trying to pick some lessons from them would be less painful when it comes to be memorized as a part of life-journey.

As said before, time still counts. We never know when it will stop ticking for each one of us. So make our timeline worth enough to live without being spiteful of someone else's life. We could see what achievement they have for our own motivation because we may never know what loss they've been through, and so we have we been as they see us.

Something we must know that, true content of heart will never be attained without sincere gratefulness of life. There are always good ways for good intentions. A hard way comes along with the easy way. So when we're just doomed of life, the answers could reside within us. The first baby step to solve is to look deeper on ourselves, shift a little bit of our point of view, then we could correct what is mistaken.

Now is always the right time to change. Our goals doesn't need our excuses. Because when the death rings the bell, we know that we could do nothing but reap what we've done for.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lack of wisdom and wealth
Always open for any admonition

~ Raffmont, I ~

Sabtu, 16 Juni 2018

The Kind(ness) Only You Can Do



Saat kamu sendirian, dan melihat-lihat cuplikan kehidupan orang lain... Baik dari dunia maya ataupun dunia nyata, tak jarang kamu membandingkan kehidupanmu dengan kehidupan mereka. Ada banyak penampilan yang mampu menggelitik imajinasimu betapa beruntungnya mereka. Atau betapa malangnya mereka. Ya, keberuntungan dan kemalangan. Tidak lain adalah bayangan dari bagaimana caramu memandang mereka. Dengan standar dirimu sendiri.

Ketika kamu membandingkan, hal itu tidak sepenuhnya salah. Manusia memang punya sifat kompetitif. Sadar tidak sadar, sedikit banyak, kamu ingin menjadi lebih baik dari orang lain. Atau setidaknya, kamu tidak ingin direndahkan orang lain. Dan dari proses pembandingan itulah kamu berusaha mengukur kapasitas dirimu sendiri.

Hal yang salah adalah jika perbandingan tersebut hanya memupuk rasa dengki dalam hatimu. Atau mengurangi kadar kebahagiaanmu karena rasa syukur yang makin menipis. Apakah pantas hatimu terbebani dengan sesuatu yang tidak kamu miliki, sementara dirimu belum mampu menghitung dan mensyukuri semua nikmat yang telah ada padamu?

Percayalah, setiap orang pasti pernah merasakan dirinya rendah. Merasa dirinya lemah. Merasa dirinya tidak sanggup berbuat apapun lagi pada kondisi tertentu yang menekan mereka. Demikian pun kamu. Tidak hanya dirimu yang pernah mengalami hal seperti itu. Tidak, kamu tidak sendirian.

Namun jika setiap orang mengalami hal yang sama, apa yang membuatnya terasa berbeda? Tentu saja yang membuatnya berbeda adalah dari mana sudut pandangmu melihat dan bagaimana caramu memahaminya. Ketika kamu melihat mereka mendapat suatu keberhasilan, mungkin kamu belum mengetahui seberapa pahit kehilangan yang pernah mereka lalui. Lebih jauh dari itu, dua hal lain yang membedakan adalah seberapa jauh ambang toleransi kesabaran mereka dan bagaimana reaksi mereka, baik saat menghadapi stres maupun saat menyelesaikan masalah yang mereka temui.

Ada banyak hal yang mungkin terjadi dalam skenario kehidupan. Baik skenario terburuk maupun terbaik seperti yang pernah kamu lihat. Dan yang perlu kamu ingat, di luar konteks semua orang mengalami hal yang sama atau tidak, pahamilah bahwa tiap kejadian yang terjadi pada seseorang telah diukur sedemikian rupa untuk mampu dijalani oleh orang tersebut. Kesulitan atau kemudahan yang terasa sama atau berbeda, hanya kamu yang bisa menjalani apa yang kamu alami. Bukan orang lain.

Tentu bicara hal ini tidak lepas dari takdir yang telah ditentukan. Tapi takdir bukanlah sesuatu yang berada dalam kekuasaan kita. Bukan juga sesuatu yang kita ketahui secara pasti. Hal itulah mengapa kita dituntut berusaha untuk mengetahui apa yang pada akhirnya akan kita terima. Dengan kesabaran yang dilatih, kita bisa mengoptimalkan potensi yang kita miliki dalam mengelola kehidupan untuk meraih yang terbaik.

Dan usaha itu bisa dilakukan dari sekarang. Di tempatmu saat ini. Ada banyak hal baik yang bisa kamu mulai dari dirimu sendiri. Bisa jadi hal tersulit untuk dilakukan adalah meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang kamu lakukan ini baik, tetapi selama kamu memiliki ilmu  yang cukup tentangnya, lakukan saja. Mungkin saja kebaikan yang kamu lakukan terlihat remeh di hadapan orang lain, tapi yakinlah bahwa memang hanya kamu yang bisa melakukan kebaikan tersebut. Lebih jauh lagi, ketika kamu ikhlas dalam kebaikan yang kamu lakukan, balasan yang kamu dapat akan menjadi bukti bahwa kamu lebih bahagia daripada orang yang tidak melakukan apapun. Kompetisi yang sehat bukan, bersaing dalam berbuat kebaikan?

Hal yang baik didapat dan dimulai dari hal yang baik juga. Tidak salah mengambil pelajaran dari kehidupan orang lain, namun juga merupakan hal bijak untuk belajar dari kesalahan diri sendiri. Kebaikan yang dicontohkan orang lain dapat kita ikuti, dan balasan kebaikan yang kita sebar juga akan kita terima pada waktunya. Jika kamu percaya, kamu bisa melakukannya sekarang :)