Jumat, 05 September 2014

Sepenggal Cerita Rindu


Gadis itu bernama Rindu. Ia memiliki seorang kekasih, Kenangan namanya. Pada awalnya Rindu tak memiliki perasaan apa-apa pada Kenangan. Tetapi sejak Kenangan menceritakan segala kebersamaan yang ia miliki bersama Rindu, Rindu menyadari bahwa ia mulai menyukai Kenangan. Kenangan pun merasa tak dapat berpisah dari Rindu. Sejauh apa pun Kenangan melangkah, kemana pun Kenangan pergi, ia selalu merasakan hadirnya Rindu. Kenangan tahu, Rindu menunggunya di tempat mereka biasa bertemu, tempat yang mereka namakan Hati.
Suatu ketika, Rindu terpesona melihat semburat cahaya langit senja, mengingatkannya pada warna Hati. Ia bergegas menuju Hati, ingin bertemu sang kekasih. Setelah sekian lama, Rindu mulai gelisah. Tidak pernah Kenangan membiarkannya menanti terlalu lama. Ia khawatir apa yang sedang Kenangan alami sehingga ia memanggil temannya, Harapan.
Rindu menceritakan semua kegundahannya pada Harapan. Rindu sangat percaya Harapan mampu menolongnya. Rindu menceritakan ia tidak tahu mengapa Kenangan belum datang menemuinya. Harapan sangat mengerti keinginan Rindu sehingga dengan sukarela ia menawarkan diri untuk mencari Kenangan.
Setiap tempat Harapan datangi untuk mencari Kenangan. Namun sayang, ia tidak menemukan Kenangan di mana pun. Harapan sudah mendatangi Mimpi, namun Kenangan tidak di sana. Ketika Harapan sampai di Angan, ia mendapat kabar bahwa Kenangan sudah pergi ke tempat lain bernama Realita. Realita merupakan tempat terakhir yang akan Harapan kunjungi mengingat Harapan seringkali melihat hal-hal yang membuatnya kecewa. Namun demi Rindu, Harapan akan melakukan apapun.
Ternyata benar, sesampainya di Realita, Harapan bertemu Kenangan. Namun sayang, sebelum menyampaikan keinginan Rindu, kekecewaan Harapan terulang lagi. Kenangan telah terpikat oleh gadis lain bernama Hilang. Hilang telah benar-benar membuat Kenangan melupakan Rindu, tidak lagi merasakan hadirnya Rindu.
Sementara Harapan pergi mencari Kenangan, Rindu selalu setia berada di Hati menunggu Kenangan. Ketika Harapan pulang, Rindu segera menanyakan bagaimana kabar Kenangan. Tak dapat dipungkiri lagi betapa sedih perasaan Rindu mendengar berita dari Harapan. Rindu hampir tak dapat percaya sehingga ia memutuskan tetap akan menunggu Kenangan di Hati.
Dalam penantian Rindu di Hati, tanpa sengaja ia bertemu Luka. Luka ingin melihat senyum Rindu yang sama sekali tak pernah dilihatnya sejak pertama kali bertemu Rindu. Pada akhirnya, Luka-lah yang menemani Rindu sejak Kenangan pergi meninggalkannya. Luka bertekad tidak akan meninggalkan Rindu hingga ia mampu tersenyum kembali.
Setelah sekian lama, Rindu merasa yakin ia bisa menjalani hidup tanpa Kenangan. Ketika ia mulai membuka pintu Hati, Rindu melihat Luka bersiap pergi. Luka mengatakan bahwa Waktu telah menjemputnya untuk berpisah. Luka berpesan bahwa dalam perpisahan kali ini Rindu tak boleh lagi menangis, setelah Luka dapat melihat senyum Rindu yang telah kembali. Tanpa bisa dicegah, Luka pun pergi bersama Waktu.

Hari ini, hanya ada Rindu di Hati.

Tak ingin sendirian, akhirnya Rindu berniat pindah dari Hati agar tidak lagi teringat kesedihannya tentang Kenangan. Hati itu sekarang kosong hingga beberapa lama. Suatu saat ada seseorang yang terkesan dengan warna merah Hati. Ia mengetahui kisah Rindu dan Kenangan yang pernah terjadi dalam Hati dan ia tidak ingin kesedihan itu terulang kembali. Oleh karena itu dengan sungguh-sungguh ia mengisi Hati dengan segala sesuatu yang membahagiakan.

Semenjak itu, orang-orang mulai mengenal penghuni baru Hati. Mereka mengenalnya bernama Cinta.

-Inashci Run-
5 September 2014