Purwokerto, 25 Maret
2016
Assalaamu’alaikum, Papa...
Ini satu surat yang Sani tujukan buat Papa... Teristimewa
untukmu Papa, karena telah banyak hal terjadi hingga sekarang yang Sani harap
bisa Sani beritahukan pada Papa...
Hari ini Sani genap berusia 22 tahun, Pa. Sudah berlalu 3
tahun sejak perjumpaan terakhir kita. Saat itu Sani akui Sani masih bodoh,
tidak mengerti apa yang Papa rasakan, bagaimana Papa berjuang untuk bisa pulih
kembali hingga pulang ke rumah. Namun Sani masih mengingat pesan Papa, menyemangati
untuk terus melanjutkan pendidikan yang sedang Sani jalani. Hingga akhirnya, 3
minggu lalu Sani berhasil di wisuda Pa, alhamdulillah...
Tanggal 8 Maret 2016, Sani telah diwisuda lulus menjadi
seorang sarjana kedokteran. “Nur Ichsani Pratiwi, S.Ked” tambahan gelar yang
tertulis di belakang nama yang diberikan olehmu, Pa... Jujur Sani pernah
membayangkan jikalau Papa dapat hadir untuk menyaksikan wisuda Sani, lengkap
dengan toga dan medali menyambut hari bahagia itu. Walaupun demikian, Sani
masih bisa bersyukur ada Mama dan Ichsan yang datang menemani Sani. Pada hari
itu memang tidak banyak yang bisa Sani berikan, baru sekedar gelar sarjana
dengan predikat “cum laude” yang Sani
harap bisa membuat Papa, Mama, dan kakak-kakak Sani bangga pada Sani.
Pa, tahukah Papa jika bukan karena nasihatmu, Sani tidak
akan bisa diwisuda tepat 3,5 tahun sejak Sani resmi kuliah kedokteran? Sani
ingat ketika Sani sempat ingin mengikuti ujian akademis di tempat yang Sani
impikan, Papa dengan sabar mengarahkan Sani untuk terus bertahan agar segera
lulus menjadi dokter. Memang Sani akui tidak bisa dibilang mudah Pa... Jika
Papa ingin tahu, Sani pernah jatuh, bahkan lebih dari sekali sejak kepergian
Papa. Sani ingat Papa tidak lagi bersama Mama sehingga Sani terus berdoa semoga
Sani tetap bisa lulus tepat waktu untuk membahagiakan Mama dan Papa. Sejujurnya
Sani tidak menyangka Pa, banyak keadaan yang seakan memaksa Sani untuk menyerah,
namun entah bagaimana, selalu saja ada pertolongan Allah yang Sani dapatkan
untuk menyelesaikan sarjana ini, Pa. Sungguh hal terbaik yang bisa Sani lakukan
adalah bersyukur pada Allah, telah memampukan Sani meraih semua ini. Papa,
Allah sangat baik pada Sani, semoga Sani bisa menjadi hamba-Nya yang lebih
sholehah lagi...
Sekarang Sani sedang menjalani pendidikan profesi dokter Pa,
stase pertama adalah stase IKM. Sani belum bisa pulang ke rumah dalam waktu
dekat ini, namun Sani harap sebagai gantinya Sani dapat segera menyelesaikan
separuh mimpi Papa yang lain, yaitu menjadikan Sani seorang dokter. Papa, Sani
memang belum resmi mendapat gelar dokter, namun orang-orang di sekitar Sani
banyak yang telah memanggil Sani dengan sapaan “Bu Dokter”. Sani anggap itu
sebagai doa mereka Pa, agar Sani mudah menjadi seorang dokter yang baik. Tapi
Sani jadi ingin tahu Pa, bagaimana ya rasanya jika Papa yang menyapa Sani
dengan “Assalaamu’alaikum Bu Dokter” dengan wajah tersenyum pada Sani? Pasti
rasanya menyenangkan :D
Papa, hari ini Sani sangat bersyukur Sani mendapat hadiah
istimewa yang Allah berikan pada Sani. Allah telah mengabulkan doa Sani, untuk
lulus cum laude dan menjalani
pendidikan profesi dokter sebelum Sani berusia 22 tahun. Sani harap Sani bisa
menjadi hamba Allah yang lebih baik lagi Pa, bisa menjadi anak sholihah yang
mengantarkan kedua orang tua dan saudaranya untuk memasuki surga yang Allah
sediakan bagi orang beriman dan beramal sholih secara bersama-sama. Sani ingin
Sani, Papa, Mama, Ichsan, dan Kak Rani menjadi bagian dari kaum yang dirahmati
Allah... Semoga Sani, Mama, Ichsan dan Kak Rani bisa bertemu lagi dengan Papa
di surga nanti dengan wajah bahagia ya, aamiin...

“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau
yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat
berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan
(memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau
dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. Al Ahqaf:
15)