Selasa, 21 Oktober 2014

Mana Rasa Syukurmu?

“...Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan”
(QS. Al A’raaf: 56)

Potongan ayat di atas sangat menggambarkan apa yang pernah saya alami beberapa waktu lalu. Tepatnya ketika saya masih menjadi mahasiswi di Purwokerto, masih begitu muda dan semangat dalam menuntut ilmu di tanah orang. Sebuah ilmu yang kelak akan menuntut balik saya dalam bentuk tanggung jawab besar atas kesehatan seseorang, yaitu menjadi seorang dokter.

Belajar dan ujian adalah rutinitas wajib yang lumrah dilakukankan setiap penuntut ilmu, tak terkecuali saya yang masih berstatus sebagai mahasiswi baru. Selama semester awal kuliah, alhamdulillah proses belajar saya cukup efektif, dibuktikan dengan nilai-nilai ujian saya yang memuaskan dan tak pernah harus mengulang, atau yang biasa diistilahkan remedi. Saya menikmati cara belajar saya, mendapat ilmu, dan tidak pernah ikut remedi.

Namun pada semester selanjutnya, suatu ketika saya pernah menemui suatu materi kuliah yang membutuhkan tenaga ekstra untuk memahaminya. Saya tidak mau gagal dalam ujian materi tersebut sehingga sejak jauh hari telah saya persiapkan berbagai sumber referensi yang bisa saya gunakan untuk belajar. Saya ingat materi tersebut membahas seluk beluk fisiologi dasar reproduksi dan perkemihan, dua sistem dalam tubuh manusia dengan organ yang saling terkait.

Tibalah hari ujian. Seperti biasa, saya duduk di hadapan kertas soal, membaca menyeluruh semua tulisan di atas kertas tersebut, dan menjawab pertanyaan sesuai pemahaman saya. Beberapa menit awal pengerjaan ujian, tak dipungkiri hati saya berdegup lebih kencang, tanda bahwa saya harus lebih memfokuskan pada apa yang saya hadapi. Namun degupan itu semakin berkurang seiring makin banyaknya soal yang saya jawab hingga yang tersisa bukan lagi degupan gugup, namun desahan harapan lulus setelah kaki saya melangkah keluar ruang ujian.

Beberapa minggu kemudian, hasil pengumuman ujian tersebut ditempelkan di depan ruang kelas. Saya tidak peduli seberapa sulit soal yang saya jawab kemarin, saya hanya berharap saya tidak harus remedi. Namun yang saya lihat pada kertas pengumuman ujian tersebut adalah nama dan nilai saya yang ditulis dalam kolom buram. Remedi. Arti dari kolom buram yang bernuansa kelabu.

Arti dari warna buram itu sendiri segera mengikis apa yang  saya harapkan pada ujian tersebut. Apakah ada yang salah dengan harapan saya? Apakah seharusnya saya tidak belajar saja sekalian jika memang harus mengulang ujian dua kali? Jika memang untuk ilmu dasar manusia saja saya sudah banyak yang salah, bagaimana nanti jika saya sudah menemui kondisi klinis yang penerapan ilmunya lebih rumit tanpa dasar yang kuat? Berbagai pertanyaan ini terus membuat saya stres jika saya tidak mengingat satu hal ini.

Bersyukur. Yah, satu hal yang saya hampir lupakan adalah bagaimana cara meningkatkan rasa syukur saya kepada Allah. Siang itu tangisan saya tidak lagi menjadi simbol kesedihan rasa kecewa, namun telah berubah menjadi semangat untuk berbuat baik lebih banyak sebagai tanda syukur atas nilai yang saya peroleh. Saya ingat firman Allah di QS. Ibrahim ayat 7 bahwa Allah akan menambah nikmat orang yang mensyukurinya. Sore itu jugaalhamdulillah saya juga masih dalam keadaan berpuasa sunah―saya berniat mensyukuri nilai saya dengan cara menambah kualitas ibadah saya, yaitu dengan solat berjamaah di masjid setelah berbuka.

Saya solat maghrib berjamaah di daerah Karangwangkal, yaitu di Masjid Fatimatuzzahra. Seusai solat, entah bagaimana hati saya menjadi lebih tenang. Saya merasa lebih ikhlas dengan apa yang saya alami hari ini. Namun tiba-tiba mata saya terpaku pada suatu kotak amal yang ada dalam masjid tersebut. Akhir-akhir ini seingat saya, saya jarang bersedekah. Namun tanpa berpikir panjang, segera saya ambil uang dari dompet saya dan langsung saya masukan ke dalam kotak amal tersebut. Saya tidak ingat berapa jumlahnya, tetapi masih lebih besar dari jumlah uang yang biasa saya sedekahkan. Jumlah yang mungkin membuat saya berpikir dua kali untuk disedekahkan jika berada dalam kondisi normal.

Namun saat itu saya tidak berpikir dua kali. Niat saya hanya satu, saya ingin menolong agama Allah, dan seadanya uang di tangan saya, maka akan saya berikan, terutama dalam jumlah yang banyak. Dan benar, begitu uang tersebut masuk ke dalam kotak, entah mengapa air mata saya menetes. Bukan karena tidak ikhlas uang sebanyak itu disedekahkan, tetapi mengapa baru sekarang saya berani sedekah sebanyak itu? Toh Allah Maha Kaya dan selalu membalas kebaikan, lalu apa yang membuat saya akhir-akhir ini jarang bersedekah? Sambil berucap istighfar, saya pulang ke rumah. Pulang dengan hati yang lapang dan lebih lega.

Di perjalanan pulang, Allah menunjukkan kebenaran dari janji-Nya. Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat dengan orang yang berbuat kebaikan. Dan salah satu rahmat yang saya rasakan saat itu selain kelegaan hati adalah suatu kejutan yang sangat tidak saya sangka. Sebelum mencapai rumah, saya melewati kampus saya. Tiba-tiba saya ingin melihat nilai saya lagi, entah bagaimana rasanya hati ingin memastikan apa yang saya lihat tadi siang.

Malam itu saya berjalan ke ruang kelas, melihat pegumuman nilai, dan menelusuri nama dan nilai saya. Maasya Allah, ternyata nilai saya cukup untuk syarat kelulusan! Saya hampir tidak percaya dengan apa yang saya lihat malam itu. Saya lihat lagi, nama dan nilai saya tetap berada di kolom buram, sama seperti teman-teman lain yang nilainya tidak mencukupi. Namun hanya nilai saya yang berbeda! Saya tidak menyadari hal ini, namun malam itu juga saya langsung konfirmasi ke dosen saya mengenai nilai saya. Alhamdulillah, dosen tersebut berkata kalau nilai saya cukup, saya tidak perlu ikut remed. Mungkin nama saya berada di kolom buram hanya kesalahan teknis saja. Malam itu saya menangis lagi kesekian kalinyawah hari itu saya banyak menangis ya, hehekarena terharu betapa indahnya rahmat Allah yang telah saya dapatkan.

Sungguh perbuatan baik saya tidak seberapa, hanya sedekah beberapa rupiah sebagai tanda syukur. Namun Allah-lah yang melipatgandakan balasan setiap orang yang beriman dan berbuat baik. Alhamdulillah, setidaknya satu kata itu wajib harus saya ucapkan setelah mendapat karunia seperti ini. Sejak malam itu, saya semakin yakin. Maha benar janji Allah dan saya tahu bahwa Allah memiliki banyak cara dalam menyayangi hamba-Nya.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Kunci Kebahagiaan: Hati yang Ikhlas dan Bersyukur

Setiap orang pasti menginginkan kebahagiaan. Mayoritas dari mereka mengidentikan kebahagiaan dengan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Keinginan itu bermacam-macam, ada yang bersifat barang konkrit yang dapat dibeli atau bersifat abstrak seperti pencapaian akan suatu prestasi. Dengan demikian, tidak mengherankan segala macam cara akan ditempuh untuk meraih kebahagiaan itu tanpa peduli seberapa mahal harga yang harus dibayar.
Sebenarnya, kebahagiaan itu sejatinya tidak terletak pada memiliki sesuatu yang belum didapat, namun terletak dari kebersediaan hati untuk menerima apa yang telah dimiliki. Agar hati siap menerima, ada dua hal sederhana yang harus ada pada hati seseorang. Dua hal  yang sederhana, namun tidak semua orang mengerti betapa besar peran dua hal ini untuk memiliki kebahagian; yaitu rasa ikhlas dan bersyukur.

Kenapa harus ikhlas? Karena ikhlas akan membawa ketenangan hati. Ketenangan inilah yang akan menjadi pangkal kebahagiaan sejati, rasa damai yang tidak terusik oleh berbagai hasrat yang belum tercapai. Ikhlas berawal dari keyakinan bahwa semua hal yang terjadi dan seberapa besar rizki yang diberikan Allah merupakan suatu ketentuan terbaik bagi seseorang. Dengan keikhlasan, semua hal yang hilang pada kehidupan seseorang tidak akan membuat hatinya gelisah karena ia yakin Allah tahu yang terbaik bagi dirinya.

Kenapa harus bersyukur? Karena dengan bersyukur dapat meniadakan rasa ketidakpuasan dari apa yang dimiliki. Rasa tidak puas ini akan membuat seseorang terus berkeinginan mendapatkan apa yang belum ada pada dirinya. Jika hal ini dibiarkan, maka yang terjadi adalah orang tersebut akan terus fokus mengejar kebahagiaan tanpa pernah mendapatkannya. Berhentilah mengejar, dan perhatikan sekitar. Betapa banyak hal yang masih kita miliki untuk menjalani hidup sebagai modal kebahagiaan, sedangkan banyak orang di luar sana tidak seberuntung kita untuk memilikinya. Keutamaan lain dari bersyukur adalah Allah akan menambah nikmat kepada kita. Bahkan tanpa harus kelelahan mengejar, Allah akan memberikan kebahagiaan dengan nikmatnya jika bersyukur, cukup sederhana bukan?

Hati yang ikhlas dan penuh rasa syukur merupakan syarat menerima kebahagiaan hakiki. Memang untuk memiliki rasa ikhlas atau syukur tidak selalu mulus, seringkali didahului berbagai pengalaman yang perih dan tajam untuk mengasah kepekaan hati mengenal apa itu rasa bahagia. Namun rasa sakit akibat tempaan tersebut akan terbayar oleh kebahagiaan yang diinginkan. Oleh karena itu, ikhlas dan bersyukurlah, maka kebahagiaan akan datang menghampiri ;)

“Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunuus: 58)