Minggu, 26 Januari 2014

Untukmu yang Ingin Mengerti



Aku tidak mau kau pergi
Biarkan aku terus bersamamu

-----------------------------------------------
Bukankah kata-kata itu yang selalu menggaung di hatimu?
Kata-kata yang entah kapan sanggup kau ucapkan untukku
Entah seberapa sulit kata itu terungkap
Seraya waktu berlalu kau menungguku mengerti sendiri

Tak perlu lagi memberi tahuku bagaimana cara membuatmu tersenyum
Tanpa perlu kau ajari pun telah kukuasai sendiri
Tak perlu lagi kau sembunyikan dimana letak keceriaanmu
Tanpa mencari pun telah kutemukan sendiri
Semuanya terlihat jelas seterang purnama di langit malam

Namun aku juga bukan radar yang mampu menangkap gelombang suara hatimu
Aku tidak sepeka kamera polaroid yang mampu segera menggambarkan apa yang kau rasa
Selama ini aku merasa seperti teleskop, berusaha mencari titik terang dan meneropong lebih dalam betapa luasnya langit hatimu
Seperti itulah yang kulakukan jika kau bertanya bagaimana caraku memahami dirimu

Jika tak pernah kau katakan, bagaimana bisa aku tahu?
Yang kutahu adalah tak seorang pun yang mengerti hati kecuali pemilik dan penciptanya
Oleh karena itu itu aku yakin
Dengan sederhana, pasti suatu saat kamu akan menjelaskannya padaku

Hei, sepertinya tidak cukup jika aku meyakini hal ini sendiri
Setidaknya aku juga ingin kau yakin, dengan mengatakan hal ini padamu

Aku tidak mau kau pergi
Biarkan aku terus bersamamu
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jumat, 24 Januari 2014

Langit Hatimu

Lihatlah langit biru
Melembut beledu
Terang, jernih menghangat
Laiknya kaca berkabut
Dibalik sinar putih tersekat

Tak akan ada bayangmu di sana
Lebih baik dari itu
Lihat dan perhatikan
Temukan cerminan dirimu

Lihatlah sekali lagi
Langit biru segera berganti
Ketika lembayung lelah menanti
Mentari akan berhenti
Saat malam menagih

Perhatikanlah sekali lagi
Dan lihat hatimu
Setinggi apa asa teraih
Setinggi apa congkak bertaruh

Rabu, 22 Januari 2014

Karena Kamu Adalah Langit

Setiap kutengadahkan pandanganku, aku selalu berharap, akan ada langit biru yang dapat kulihat hari ini. Layaknya selimut lembut membentang luas, terasa hangat ditimpa kilauan cahaya matahari. Seakan aku ingin membalutkan tubuhku dengan selimut itu, merebahkan kepalaku pada gumpalan awan kapas keperakan. Yah, langit biru. Selalu langit biru yang mampu menjeratku dari penat yang selalu berusaha melekat.


Temaram senja akan segera datang ketika langit biru beralih jingga. Senja langit jingga. Senja yang sangat kusukai. Melihat pendaran emas matahari ketika terbenam dan terus menghitung detik demi detik hingga Venus muncul. Secantik rona merah di pipi sang putri, selalu aku kagumi. Apakah senja merasa malu untuk selalu kuperhatikan?


Waktu bergulir cepat membawa serta malam yang menawan. Yah, terlihat menawan dan anggun dihiasi kerlip beribu bintang. Tak kalah indah dibanding gemerlap permata pada mahkota. Sebaran berlian malam ini tak pernah gagal menarik sudut bibirku untuk selalu tersenyum melihatnya. Yah, tak jarang pula malam akan kembali tersenyum padaku, ketika sang rembulan jelita tak lagi bersembunyi. Apakah sang rembulan tahu, betapa aku merindukannya di tiap malam?


Semburat garis merah akan selalu menjadi warna dari fajar yang tak pernah terlambat. Diikuti siluet cahaya di ufuk timur, aku sadar, pagi segera menyapaku untuk menawarkan hari baru dengan membawa serta harapan. Pagi yang dingin, namun cukup mampu menghangatkan hatiku. Sebab ketika pagi datang, aku yakin, akan kutemui lagi langit biru dan kilau emas matahari yang senantiasa mempesona.

Minggu, 19 Januari 2014

Bayanganmu Seperti Angin



Bayanganmu seperti angin
Tak pernah bisa kulihat
Tetapi selalu terasa, menyelinap dalam tiap kesendirianku

Bayanganmu seperti angin
Tak pernah bisa kukejar
Tetapi tak pernah menjauh, melekat erat dalam tiap kerinduanku

Bayanganmu seperti angin
Mengundang hujan yang terlihat di wajahku
Ketika badai melanda hati

Bayanganmu seperti angin
Menebar asa yang semakin bertumbuh
Dalam kerinduanku
Dalam kesendirianku


Aku menunggumu
Ketika angin berhembus
Menyadari waktu semakin tergerus
Acuhkan segala rayu mendayu
Lelah yang memupuk, terlalu merajuk
Namun aku tahu
Tak ada yang lain, hanya dirimu

Pesona Langit Pagi



Seindah langit pagi menyapa
Pesona harmoni merebak cahaya
Dengan semburat emas sang surya
Membiarkan malam berlalu entah mengapa

Kilau embun terpantul bagai cermin
Menyeruak di antara kabut yang dingin
Bersama lantunan nada kicau burung
Melepas galau hati yang terkurung

Rabu, 15 Januari 2014

Cukup Sederhana



Sederhananya, aku tidak lagi mendengar namamu
Bahkan ketika orang lain menyebutmu dalam percakapan mereka


Sederhananya, aku tidak lagi menghayati alunan nada yang mengiringi kita
Bahkan ketika berada di kafe yang sering kita kunjungi


Sederhananya, aku tidak lagi terlalu sering bertemu denganmu
Bahkan ketika tanpa sengaja kita bertukar pandang di taman itu




Sederhananya, hanya itu yang kubutuhkan untuk mengenangmu



Bukan melupakan, apalagi menganggapnya tak pernah terjadi
Karena aku tidak bisa membuang semua yang telah ada pada kita
Mengenangmu, menyimpan rapi ingatanku tentangmu
Untuk suatu ketika kunikmati kembali rasamu yang pernah kumiliki

Hanya dengan begitu aku sungguh bisa paham
Kilau cahaya yang ada di matamu saat menatapku
Sederhananya, hanya 3 kata tentang ini




Kita yang bahagia