Sewaktu di SD, memang hanya ada satu ekskul, yaitu pramuka. Ada satu pengalaman yang masih kuingat, tentang perkemahan di Cibubur selama 3 hari 2 malam ketika aku kelas 6 SD. Kegiatan perkemahan itu diikuti pramuka siaga dan penggalang. Satu kejadian yang membuat kenangan itu berkesan adalah turunnya hujan di malam pertama kami. Tenda kami kebanjiran dan sedihnya kami mengungsi ke MCK, ahaha. Di Cibubur juga aku berkenalan dengan siswi SMP Al Futuhat, namanya Kak Purwanih. Setelah agak reda, larut malam aku tidur di tenda darurat, dan ketika yang lain sudah banyak yang terlelap, kakak pembinaku iseng memotret mereka, termasuk aku! Hmmph, sampai sekarang aku gak pernah tau bagaimana ekspresi mukaku di foto itu.
Hmm,, kurang lebih gak kayak gini juga tendanyaa...
Pada malam itu sepertinya aku baru menyadari, selama ini aku diajari untuk mandiri. Kuperhatikan orang tua teman-temanku datang ke tempat perkemahan untuk melihat keadaan mereka ketika hujan itu turun. Tidak semuanya sih. Tapi di situ aku merasa bangga, setidaknya orang tuaku tak perlu khawatir dengan keadaanku. Lagipula aku tidak pergi sendiri, aku kan pergi bersama saudaraku. Orang tuaku juga sudah percaya pada guruku. Malah kadang aku merasa bersyukur orang tuaku tidak terlalu bersikap protektif padaku. Itu sebabnya sampai sekarang aku terbiasa pergi ke suatu tempat sendiri, asal aku sudah dapat izin dan aku kenal tempat itu sebelumnya.
Malam selanjutnya kalau tidak salah sejenis kegiatan pensi. Pada saat makan malam di depan tenda, teman-temanku yang lain sibuk bercanda, tapi entah mengapa aku lebih suka sendiri. Aku tidak melamun, tapi karena kesendirianku, akhirnya mereka mengajakku mengobrol. Mungkin memang dari pembawaanku yang seperti ini tetap berlanjut sampai sekarang. Yah, intinya sekarang aku tau kebiasaan melamun, eh bukan, sendirian ternyata sudah mulai terlihat sejak aku SD.
Hmm, aku suka gambar leopard ini,, lucu... ^_^
*apa sih ga nyambung*
Mungkin sewaktu di SD, aku tidak terlalu dekat dengan banyak teman. Tetapi sejak SMP, aku lebih mudah bergaul dengan teman-teman baru yang lebih menyenangkan. Jarak SMP dengan rumahku tidak terlalu dekat, dan tidak seperti SD yang hanya berjalan kaki kurang lebih 15 menit, aku harus tiap pagi naik elep selama kurang lebih 20 menit untuk sampai ke sana.
Di kelas 7, aku belum menemukan teman yang cocok, sama seperti di SD. Tapi di kelas 8, kurasa itulah tahun terbaikku di SMP. Aku mulai bertemu teman baru yang lebih menyenangkan. Di SMP-ku tidak ada kelas unggulan, tapi aku tahu di kelasku itu udah banyak teman-teman lain yang jenius. Memang butuh perjuangan untuk mendapat nilai bagus, tapi di situlah daya tarik kompetisi antar kelas. Di kelas itu juga aku menemukan salah satu teman dekat yang bisa kuajak curhat dan sama sepertiku, selalu semangat untuk berkompetisi. Tujuan SMA kami awalnya sama, yaitu SMAN 1, tapi sayangnya dia tidak diterima waktu itu dan akhirnya dia sekolah di SMAN 13. Di akhir tahun, kami tidak sekelas lagi dan karena sudah beda sekolah, komunikasi kami memang tidak sefrekuentif dulu, tapi tetap kami jalin walau cuma kirim kabar via sms atau komen-komenan status di fb, hehehe.
Sekarang aku sudah SMA. Memang jelas bedanya, dulu sewaktu di SMP aku hampir selalu memiliki waktu luang. Setidaknya di akhir pekan aku bisa bersantai. Karena sewaktu SMP aku memang tidak ikut organisasi apapun, termasuk ekskul. Pernah ikut, tapi kuperhatikan hanya sekedar main-main jadi aku keluar. Dan aku tidak tertarik sama sekali dengan OSIS karena asumsiku waktu itu anggota OSIS = repot + sibuk. Hmm, tapi di SMA ini, justru aku merasa lebih penasaran dengan banyak ekskul dan OSIS. Aku ingin tahu, apakah kegiatan organisasi di SMA jauh beda nggak sama di SMP. Hmm, gara-gara terlalu penasaran, aku ikut banyak organisasi, yaitu IRMAN, PRISMA, KISMA, sama CHADIKA.
Itu belum seberapa. Sewaktu itu kakak kelas XII, kalau gak salah ada Kak Wahyu, Kak Ardi, Kak.. siapa lagi ya? Lupa deh, yang jelas beberapa anggota OSIS yang udah kelas XII nawarin kelas X-nya buat join OSIS. Saat itu aku gak tertarik. Teman-teman sekelas mendorongku untuk ikut, tapi aku gak mau. Terus dipilih beberapa anak buat ikut MUKILAS. MUKILAS itu apa ya? Gak ngerti deh.
Di rumah, aku ceritakan pengalaman itu pada kakakku. Kebetulan dia sedang libur semester. Aku bilang aku ikut banyak ekskul tapi aku gak tertarik ikut OSIS. Pendapat kakakku justru membuatku berpikir ulang. Katanya, ekskul tuh emang berguna, tapi kalau kebanyakan malah takutnya ganggu belajar. Justru kalau OSIS, di situ kita bisa belajar berorganisasi yang bener. Dan insya Allah itu berguna buat kuliah nanti. Kakakku sih seneng aku punya rasa ingin tahu yang besar sampe rela ikut banyak ekskul tapi dia pesen aku harus prioritasin belajar. Hmm, sarannya masuk akal.. Kakak emang the best deh... Miss you..
Akhirnya, suatu hari Kak Keynan ngasih tau aku untuk interview di depan mabes OSIS. Katanya aku termasuk kandidat pengurus OSIS selanjutnya, tapi harus di interview dulu. Udah kayak ngelamar kerja aja ya, ahaha. Nah pas interview, aku kasih jawaban terbaik yang insya Allah bisa kutanggung konsekuensinya. Beberapa minggu-- eh atau hari ya? --ada pengumuman lewat interkom pengurus OSIS selanjutnya. Namaku disebut sebagai Sub. Sie Mading II bareng kak Vania. Jujur, aku surprised banget.. Alhamdulillah..
Sejak saat itu, aku berusaha seoptimal mungkin meningkatkan kinerjaku gak cuma di OSIS aja, tapi juga di ekskul-ekskul yang lain, terutama IRMAN, CHADIKA, dan KISMA. Aku pikir aku terlalu banyak punya ekskul dan aku berencana keluar dari Prisma nanti setelah majalah selanjutnya terbit. Mungkin memang aku terpilih sebagai seksi mading karena aku sendiri juga anggota PRISMA tapi kupikir jika memang ekskul itu mengganggu kinerjaku di organisasi lain, yah lebih baik nonaktif aja.
Di OSIS aku bertemu banyak orang dan lebih mengenal guru-guru di sekolah. Memang ternyata menyenangkan dan sekaligus melelahkan mengikuti semua organisasi ini. Tapi kalau ikhlas, selama itu gak mengganngu nilai pelajaran, aku tetep seneng kok menjalaninya. Memang pernah ngedrop, tapi paling istirahat sebentar juga sehat lagi. Iya sih, orang tua kadang suka perhatian juga dan mewanti-wanti biar nilaiku terus naik. Dan insya Allah itu akan terbukti, aamiin.. Gimanapun juga, prioritas nomor satu adalah belajar, karena tujuanku disana juga untuk melanjutkan studi. Tahun depan jika tidak ada halangan, insya Allah aku mau jadi pengurus OSIS lagi. Yah, liat sikon aja, gimana kinerjaku selama ini di OSIS, dan jabatan apa saja yang nanti harus mengalami regenerasi selanjutnya.
Hmm, semoga aja harapanku jadi kenyataan.. aamiin... ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar