Gadis itu bernama
Rindu. Ia memiliki seorang kekasih, Kenangan namanya. Pada awalnya Rindu tak
memiliki perasaan apa-apa pada Kenangan. Tetapi sejak Kenangan menceritakan
segala kebersamaan yang ia miliki bersama Rindu, Rindu menyadari bahwa ia mulai
menyukai Kenangan. Kenangan pun merasa tak dapat berpisah dari Rindu. Sejauh
apa pun Kenangan melangkah, kemana pun Kenangan pergi, ia selalu merasakan
hadirnya Rindu. Kenangan tahu, Rindu menunggunya di tempat mereka biasa
bertemu, tempat yang mereka namakan Hati.
Suatu ketika, Rindu
terpesona melihat semburat cahaya langit senja, mengingatkannya pada warna
Hati. Ia bergegas menuju Hati, ingin bertemu sang kekasih. Setelah sekian lama,
Rindu mulai gelisah. Tidak pernah Kenangan membiarkannya menanti terlalu lama.
Ia khawatir apa yang sedang Kenangan alami sehingga ia memanggil temannya,
Harapan.
Rindu menceritakan
semua kegundahannya pada Harapan. Rindu sangat percaya Harapan mampu
menolongnya. Rindu menceritakan ia tidak tahu mengapa Kenangan belum datang
menemuinya. Harapan sangat mengerti keinginan Rindu sehingga dengan sukarela ia
menawarkan diri untuk mencari Kenangan.
Setiap tempat Harapan
datangi untuk mencari Kenangan. Namun sayang, ia tidak menemukan Kenangan di
mana pun. Harapan sudah mendatangi Mimpi, namun Kenangan tidak di sana. Ketika
Harapan sampai di Angan, ia mendapat kabar bahwa Kenangan sudah pergi ke tempat
lain bernama Realita. Realita merupakan tempat terakhir yang akan Harapan kunjungi mengingat Harapan seringkali melihat hal-hal yang membuatnya kecewa. Namun demi Rindu, Harapan akan melakukan apapun.
Ternyata benar,
sesampainya di Realita, Harapan bertemu Kenangan. Namun sayang, sebelum
menyampaikan keinginan Rindu, kekecewaan Harapan terulang lagi. Kenangan telah
terpikat oleh gadis lain bernama Hilang. Hilang telah benar-benar membuat
Kenangan melupakan Rindu, tidak lagi merasakan hadirnya Rindu.
Sementara Harapan pergi
mencari Kenangan, Rindu selalu setia berada di Hati menunggu Kenangan. Ketika
Harapan pulang, Rindu segera menanyakan bagaimana kabar Kenangan. Tak dapat
dipungkiri lagi betapa sedih perasaan Rindu mendengar berita dari Harapan.
Rindu hampir tak dapat percaya sehingga ia memutuskan tetap akan menunggu
Kenangan di Hati.
Dalam penantian Rindu di
Hati, tanpa sengaja ia bertemu Luka. Luka ingin melihat senyum Rindu yang sama
sekali tak pernah dilihatnya sejak pertama kali bertemu Rindu. Pada akhirnya,
Luka-lah yang menemani Rindu sejak Kenangan pergi meninggalkannya. Luka
bertekad tidak akan meninggalkan Rindu hingga ia mampu tersenyum kembali.
Setelah sekian lama,
Rindu merasa yakin ia bisa menjalani hidup tanpa Kenangan. Ketika ia mulai
membuka pintu Hati, Rindu melihat Luka bersiap pergi. Luka mengatakan bahwa
Waktu telah menjemputnya untuk berpisah. Luka berpesan bahwa dalam perpisahan
kali ini Rindu tak boleh lagi menangis, setelah Luka dapat melihat senyum Rindu
yang telah kembali. Tanpa bisa dicegah, Luka pun pergi bersama Waktu.
Hari ini, hanya ada
Rindu di Hati.
Tak ingin sendirian,
akhirnya Rindu berniat pindah dari Hati agar tidak lagi teringat kesedihannya
tentang Kenangan. Hati itu sekarang kosong hingga beberapa lama. Suatu saat ada
seseorang yang terkesan dengan warna merah Hati. Ia mengetahui kisah Rindu dan
Kenangan yang pernah terjadi dalam Hati dan ia tidak ingin kesedihan itu
terulang kembali. Oleh karena itu dengan sungguh-sungguh ia mengisi Hati dengan
segala sesuatu yang membahagiakan.
Semenjak itu,
orang-orang mulai mengenal penghuni baru Hati. Mereka mengenalnya bernama
Cinta.
-Inashci Run-
5 September 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar