Saat kamu sendirian, dan melihat-lihat cuplikan kehidupan orang lain... Baik dari dunia maya ataupun dunia nyata, tak jarang kamu membandingkan kehidupanmu dengan kehidupan mereka. Ada banyak penampilan yang mampu menggelitik imajinasimu betapa beruntungnya mereka. Atau betapa malangnya mereka. Ya, keberuntungan dan kemalangan. Tidak lain adalah bayangan dari bagaimana caramu memandang mereka. Dengan standar dirimu sendiri.
Ketika kamu membandingkan, hal itu tidak sepenuhnya salah. Manusia memang punya sifat kompetitif. Sadar tidak sadar, sedikit banyak, kamu ingin menjadi lebih baik dari orang lain. Atau setidaknya, kamu tidak ingin direndahkan orang lain. Dan dari proses pembandingan itulah kamu berusaha mengukur kapasitas dirimu sendiri.
Hal yang salah adalah jika perbandingan tersebut hanya memupuk rasa dengki dalam hatimu. Atau mengurangi kadar kebahagiaanmu karena rasa syukur yang makin menipis. Apakah pantas hatimu terbebani dengan sesuatu yang tidak kamu miliki, sementara dirimu belum mampu menghitung dan mensyukuri semua nikmat yang telah ada padamu?
Percayalah, setiap orang pasti pernah merasakan dirinya rendah. Merasa dirinya lemah. Merasa dirinya tidak sanggup berbuat apapun lagi pada kondisi tertentu yang menekan mereka. Demikian pun kamu. Tidak hanya dirimu yang pernah mengalami hal seperti itu. Tidak, kamu tidak sendirian.
Namun jika setiap orang mengalami hal yang sama, apa yang membuatnya terasa berbeda? Tentu saja yang membuatnya berbeda adalah dari mana sudut pandangmu melihat dan bagaimana caramu memahaminya. Ketika kamu melihat mereka mendapat suatu keberhasilan, mungkin kamu belum mengetahui seberapa pahit kehilangan yang pernah mereka lalui. Lebih jauh dari itu, dua hal lain yang membedakan adalah seberapa jauh ambang toleransi kesabaran mereka dan bagaimana reaksi mereka, baik saat menghadapi stres maupun saat menyelesaikan masalah yang mereka temui.
Ada banyak hal yang mungkin terjadi dalam skenario kehidupan. Baik skenario terburuk maupun terbaik seperti yang pernah kamu lihat. Dan yang perlu kamu ingat, di luar konteks semua orang mengalami hal yang sama atau tidak, pahamilah bahwa tiap kejadian yang terjadi pada seseorang telah diukur sedemikian rupa untuk mampu dijalani oleh orang tersebut. Kesulitan atau kemudahan yang terasa sama atau berbeda, hanya kamu yang bisa menjalani apa yang kamu alami. Bukan orang lain.
Tentu bicara hal ini tidak lepas dari takdir yang telah ditentukan. Tapi takdir bukanlah sesuatu yang berada dalam kekuasaan kita. Bukan juga sesuatu yang kita ketahui secara pasti. Hal itulah mengapa kita dituntut berusaha untuk mengetahui apa yang pada akhirnya akan kita terima. Dengan kesabaran yang dilatih, kita bisa mengoptimalkan potensi yang kita miliki dalam mengelola kehidupan untuk meraih yang terbaik.
Dan usaha itu bisa dilakukan dari sekarang. Di tempatmu saat ini. Ada banyak hal baik yang bisa kamu mulai dari dirimu sendiri. Bisa jadi hal tersulit untuk dilakukan adalah meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang kamu lakukan ini baik, tetapi selama kamu memiliki ilmu yang cukup tentangnya, lakukan saja. Mungkin saja kebaikan yang kamu lakukan terlihat remeh di hadapan orang lain, tapi yakinlah bahwa memang hanya kamu yang bisa melakukan kebaikan tersebut. Lebih jauh lagi, ketika kamu ikhlas dalam kebaikan yang kamu lakukan, balasan yang kamu dapat akan menjadi bukti bahwa kamu lebih bahagia daripada orang yang tidak melakukan apapun. Kompetisi yang sehat bukan, bersaing dalam berbuat kebaikan?
Hal yang baik didapat dan dimulai dari hal yang baik juga. Tidak salah mengambil pelajaran dari kehidupan orang lain, namun juga merupakan hal bijak untuk belajar dari kesalahan diri sendiri. Kebaikan yang dicontohkan orang lain dapat kita ikuti, dan balasan kebaikan yang kita sebar juga akan kita terima pada waktunya. Jika kamu percaya, kamu bisa melakukannya sekarang :)

Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus