Rabu, 22 Januari 2014

Karena Kamu Adalah Langit

Setiap kutengadahkan pandanganku, aku selalu berharap, akan ada langit biru yang dapat kulihat hari ini. Layaknya selimut lembut membentang luas, terasa hangat ditimpa kilauan cahaya matahari. Seakan aku ingin membalutkan tubuhku dengan selimut itu, merebahkan kepalaku pada gumpalan awan kapas keperakan. Yah, langit biru. Selalu langit biru yang mampu menjeratku dari penat yang selalu berusaha melekat.


Temaram senja akan segera datang ketika langit biru beralih jingga. Senja langit jingga. Senja yang sangat kusukai. Melihat pendaran emas matahari ketika terbenam dan terus menghitung detik demi detik hingga Venus muncul. Secantik rona merah di pipi sang putri, selalu aku kagumi. Apakah senja merasa malu untuk selalu kuperhatikan?


Waktu bergulir cepat membawa serta malam yang menawan. Yah, terlihat menawan dan anggun dihiasi kerlip beribu bintang. Tak kalah indah dibanding gemerlap permata pada mahkota. Sebaran berlian malam ini tak pernah gagal menarik sudut bibirku untuk selalu tersenyum melihatnya. Yah, tak jarang pula malam akan kembali tersenyum padaku, ketika sang rembulan jelita tak lagi bersembunyi. Apakah sang rembulan tahu, betapa aku merindukannya di tiap malam?


Semburat garis merah akan selalu menjadi warna dari fajar yang tak pernah terlambat. Diikuti siluet cahaya di ufuk timur, aku sadar, pagi segera menyapaku untuk menawarkan hari baru dengan membawa serta harapan. Pagi yang dingin, namun cukup mampu menghangatkan hatiku. Sebab ketika pagi datang, aku yakin, akan kutemui lagi langit biru dan kilau emas matahari yang senantiasa mempesona.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar