Setiap kutengadahkan pandanganku, aku selalu berharap, akan ada
langit biru yang dapat kulihat hari ini. Layaknya selimut lembut
membentang luas, terasa hangat ditimpa kilauan cahaya matahari. Seakan
aku ingin membalutkan tubuhku dengan selimut itu, merebahkan kepalaku
pada gumpalan awan kapas keperakan. Yah, langit biru. Selalu langit biru
yang mampu menjeratku dari penat yang selalu berusaha melekat.
Temaram senja akan segera datang ketika langit biru beralih jingga.
Senja langit jingga. Senja yang sangat kusukai. Melihat pendaran emas
matahari ketika terbenam dan terus menghitung detik demi detik hingga
Venus muncul. Secantik rona merah di pipi sang putri, selalu aku kagumi.
Apakah senja merasa malu untuk selalu kuperhatikan?
Waktu bergulir cepat membawa serta malam yang menawan. Yah, terlihat
menawan dan anggun dihiasi kerlip beribu bintang. Tak kalah indah
dibanding gemerlap permata pada mahkota. Sebaran berlian malam ini tak
pernah gagal menarik sudut bibirku untuk selalu tersenyum melihatnya.
Yah, tak jarang pula malam akan kembali tersenyum padaku, ketika sang
rembulan jelita tak lagi bersembunyi. Apakah sang rembulan tahu, betapa
aku merindukannya di tiap malam?
Semburat garis merah akan selalu menjadi warna dari fajar yang tak
pernah terlambat. Diikuti siluet cahaya di ufuk timur, aku sadar, pagi
segera menyapaku untuk menawarkan hari baru dengan membawa serta
harapan. Pagi yang dingin, namun cukup mampu menghangatkan hatiku. Sebab
ketika pagi datang, aku yakin, akan kutemui lagi langit biru dan kilau
emas matahari yang senantiasa mempesona.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar