“...Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang
berbuat kebaikan”
(QS. Al A’raaf: 56)
Potongan ayat di atas sangat menggambarkan apa yang pernah
saya alami beberapa waktu lalu. Tepatnya ketika saya masih menjadi mahasiswi di
Purwokerto, masih begitu muda dan semangat dalam menuntut ilmu di tanah orang.
Sebuah ilmu yang kelak akan menuntut balik saya dalam bentuk tanggung jawab
besar atas kesehatan seseorang, yaitu menjadi seorang dokter.
Belajar dan ujian adalah rutinitas wajib yang lumrah dilakukankan
setiap penuntut ilmu, tak terkecuali saya yang masih berstatus sebagai
mahasiswi baru. Selama semester awal kuliah, alhamdulillah proses belajar saya cukup
efektif, dibuktikan dengan nilai-nilai ujian saya yang memuaskan dan tak pernah
harus mengulang, atau yang biasa diistilahkan remedi. Saya menikmati cara
belajar saya, mendapat ilmu, dan tidak pernah ikut remedi.
Namun pada semester selanjutnya, suatu ketika saya pernah
menemui suatu materi kuliah yang membutuhkan tenaga ekstra untuk memahaminya.
Saya tidak mau gagal dalam ujian materi tersebut sehingga sejak jauh hari telah
saya persiapkan berbagai sumber referensi yang bisa saya gunakan untuk belajar.
Saya ingat materi tersebut membahas seluk beluk fisiologi dasar reproduksi dan
perkemihan, dua sistem dalam tubuh manusia dengan organ yang saling terkait.
Tibalah hari ujian. Seperti biasa, saya duduk di hadapan
kertas soal, membaca menyeluruh semua tulisan di atas kertas tersebut, dan
menjawab pertanyaan sesuai pemahaman saya. Beberapa menit awal pengerjaan
ujian, tak dipungkiri hati saya berdegup lebih kencang, tanda bahwa saya harus
lebih memfokuskan pada apa yang saya hadapi. Namun degupan itu semakin
berkurang seiring makin banyaknya soal yang saya jawab hingga yang tersisa bukan
lagi degupan gugup, namun desahan harapan lulus setelah kaki saya melangkah
keluar ruang ujian.
Beberapa minggu kemudian, hasil pengumuman ujian tersebut
ditempelkan di depan ruang kelas. Saya tidak peduli seberapa sulit soal yang
saya jawab kemarin, saya hanya berharap saya tidak harus remedi. Namun yang
saya lihat pada kertas pengumuman ujian tersebut adalah nama dan nilai saya
yang ditulis dalam kolom buram. Remedi. Arti dari kolom buram yang bernuansa
kelabu.
Arti dari warna buram itu sendiri segera mengikis apa
yang saya harapkan pada ujian tersebut.
Apakah ada yang salah dengan harapan saya? Apakah seharusnya saya tidak belajar
saja sekalian jika memang harus mengulang ujian dua kali? Jika memang untuk ilmu
dasar manusia saja saya sudah banyak yang salah, bagaimana nanti jika saya
sudah menemui kondisi klinis yang penerapan ilmunya lebih rumit tanpa dasar
yang kuat? Berbagai pertanyaan ini terus membuat saya stres jika saya tidak
mengingat satu hal ini.
Bersyukur. Yah, satu hal yang saya hampir lupakan adalah
bagaimana cara meningkatkan rasa syukur saya kepada Allah. Siang itu tangisan
saya tidak lagi menjadi simbol kesedihan rasa kecewa, namun telah berubah
menjadi semangat untuk berbuat baik lebih banyak sebagai tanda syukur atas
nilai yang saya peroleh. Saya ingat firman Allah di QS. Ibrahim ayat 7 bahwa
Allah akan menambah nikmat orang yang mensyukurinya. Sore itu juga―alhamdulillah
saya juga masih dalam keadaan berpuasa sunah―saya berniat mensyukuri nilai
saya dengan cara menambah kualitas ibadah saya, yaitu dengan solat berjamaah di
masjid setelah berbuka.
Saya solat maghrib berjamaah di daerah Karangwangkal, yaitu
di Masjid Fatimatuzzahra. Seusai solat, entah bagaimana hati saya menjadi lebih
tenang. Saya merasa lebih ikhlas dengan apa yang saya alami hari ini. Namun tiba-tiba
mata saya terpaku pada suatu kotak amal yang ada dalam masjid tersebut.
Akhir-akhir ini seingat saya, saya jarang bersedekah. Namun tanpa berpikir
panjang, segera saya ambil uang dari dompet saya dan langsung saya masukan ke
dalam kotak amal tersebut. Saya tidak ingat berapa jumlahnya, tetapi masih
lebih besar dari jumlah uang yang biasa saya sedekahkan. Jumlah yang mungkin
membuat saya berpikir dua kali untuk disedekahkan jika berada dalam kondisi
normal.
Namun saat itu saya tidak berpikir dua kali. Niat saya hanya
satu, saya ingin menolong agama Allah, dan seadanya uang di tangan saya, maka
akan saya berikan, terutama dalam jumlah yang banyak. Dan benar, begitu uang
tersebut masuk ke dalam kotak, entah mengapa air mata saya menetes. Bukan
karena tidak ikhlas uang sebanyak itu disedekahkan, tetapi mengapa baru
sekarang saya berani sedekah sebanyak itu? Toh Allah Maha Kaya dan selalu
membalas kebaikan, lalu apa yang membuat saya akhir-akhir ini jarang
bersedekah? Sambil berucap istighfar, saya pulang ke rumah. Pulang dengan hati
yang lapang dan lebih lega.
Di perjalanan pulang, Allah menunjukkan kebenaran dari
janji-Nya. Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat dengan orang yang berbuat
kebaikan. Dan salah satu rahmat yang saya rasakan saat itu selain kelegaan hati
adalah suatu kejutan yang sangat tidak saya sangka. Sebelum mencapai rumah,
saya melewati kampus saya. Tiba-tiba saya ingin melihat nilai saya lagi, entah
bagaimana rasanya hati ingin memastikan apa yang saya lihat tadi siang.
Malam itu saya berjalan ke ruang kelas, melihat pegumuman
nilai, dan menelusuri nama dan nilai saya. Maasya Allah, ternyata nilai saya
cukup untuk syarat kelulusan! Saya hampir tidak percaya dengan apa yang saya
lihat malam itu. Saya lihat lagi, nama dan nilai saya tetap berada di kolom
buram, sama seperti teman-teman lain yang nilainya tidak mencukupi. Namun hanya
nilai saya yang berbeda! Saya tidak menyadari hal ini, namun malam itu juga
saya langsung konfirmasi ke dosen saya mengenai nilai saya. Alhamdulillah,
dosen tersebut berkata kalau nilai saya cukup, saya tidak perlu ikut remed.
Mungkin nama saya berada di kolom buram hanya kesalahan teknis saja. Malam itu
saya menangis lagi kesekian kalinya―wah hari itu saya banyak menangis ya,
hehe―karena
terharu betapa indahnya rahmat Allah yang telah saya dapatkan.
Sungguh perbuatan baik saya tidak seberapa, hanya
sedekah beberapa rupiah sebagai tanda syukur. Namun Allah-lah yang
melipatgandakan balasan setiap orang yang beriman dan berbuat baik. Alhamdulillah,
setidaknya satu kata itu wajib harus saya ucapkan setelah mendapat karunia
seperti ini. Sejak malam itu, saya semakin yakin. Maha benar janji Allah dan
saya tahu bahwa Allah memiliki banyak cara dalam menyayangi hamba-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar